TUGAS MEMAHAMI SEJARAH PERKAMUSAN INDONESIA, BENTUK, JENIS, FUNGSI, PENGGUNAAN DAN KEDALA PENGEMBANGANNYA Dibuat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Leksikografi Dosen Pengampu : Musaffak, S.Pd

Standard

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.  Latar Belakang

            Leksikografi merupakan istilah yang digunakan dalam dunia perkamusan. Di dalam dunia leksikografi tak luput dari untaian sejarah yang ada. Leksikografi atau perkamusan ada dan berkembang di Indonesia melalui sebuah perjalanan panjang. Terlepas dari hal tersebut, leksikografi erat kaitannya dengan perbendaharaan kata atau yang biasa kita kenal sebagai kosakata. Kosakata di Indonesia mengalami perkembangan pesat seiring dengan melintasnya waktu dalam mencetak sejarah perkamusan.

            Dunia leksikografi atau dunia perkamusan sering dijumpai berbagai jenis dari bentuk kamus-kamus yang ada. Tentu di dalam tersusunnya sebuah kamus itu sendiri termuat berbagai tujuan. Tersusunnya kamus juga tidak semulus seperti apa yang dibayangkan. Dalam penyusunannya, terdapat berbagai kendala seiring dengan perkembangan kamus tersebut di Indonesia.

            Untuk itu, pelu adanya pengetahuan mengenai sejarah perkamusan di Indonesia beserta bentuk dan jenis kamus yang ada. Selain itu juga mengetahui tujuan dan juga kendala yang menyangkut perkamusan di Indonesia.

 

1.2 Rumusan Masalah

            Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah di antaranya sebagai berikut.

1. Bagaimanakah sejarah perkamusan di Indonesia?

2. Apa saja bentuk dan jenis-jenis kamus?

3.Apa fungsi dan penggunaan kamus?

4. Apa saja kendala pengembangan kamus di Indonesia?

 

1.3. Tujuan

            Tujuan penyusunan makalah ini antara lain sebagai berikut.

1. Mengetahui sejarah perkamusan di Indonesia.

2. Mengetahui bentuk dan jenis-jenis kamus.

3. Mengetahui fungsi dan penggunaan kamus.

4. Mengetahui kendala pengembangan kamus di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Perkamusan di Indonesia

Menurut Ismail (2012: 1), karya leksikografi tertua dalam sejarah studi bahasa di Indonesia adalah daftar kata Tionghoa-Melayu pada awal abad ke-15. Daftar ini berisi 500 lema. Ada pula daftar kata Italia-Melayu yang disusun oleh Pigafetta pada tahun 1522. Kamus antarbahasa tertua dalam sejarah bahasa Melayu adalah Spraeck ende woord-boek, Inde Malaysche ende Madagaskarsche Talen met vele Arabische ende Turcsche Woordenkarya Frederick de Houtman yang diterbitkan pada tahun 1603. Kamus bahasa Jawa tertua adalah Lexicon Javanum (1706) yang sekarang tersimpan di Vatikan. Kamus Bahasa Sunda baru ditulis oleh A. de Wilde tahun 1841, dengan judul Nederduitsch-Maleisch en Soendasch Woordenboek. Kamus-kamus yang ditulis oleh para ahli bahasa asing tersebut biasanya terbatas pada kamus dwibahasa (bahasa asing-bahasa di Indonesia ataupun sebaliknya).

Kamus ekabahasa pertama di Indonesia merupakan kamus bahasa Melayu yang ditulis oleh Raja Ali Haji, berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama. Kamus ini terbit pada abad ke-19. Kitab Pengetahuan Bahasa sebenarnya bukan kamus murni namun merupakan kamus ensiklopedia untuk keperluan pelajar.

Pada tahun 1930 terbit kamus Bahasa Jawa Baoesastra Djawa karangan W.J.S Poerwadarminta, C.S. Hardjasoedarma, dan J.C. Poedjasoedira. Boesastra Djawa merupakan kamus ekabahasa, seperti juga Kamoes Bahasa Soenda (1948) karangan R. Satjadibrata.

Setelah kemerdekaan penerbitan kamus di Indonesia menjadi lebih merebak.Pusat Bahasa merupakan penerbit utama kamus Bahasa Indonesia berukuran besar. Selain itu Pusat Bahasa turut pula menerbitkan puluhan kamus bahasa daerah.

Kamus besar terbitan Pusat Bahasa pertama adalah Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) yang diselenggarakan oleh W.J.S. Poerwadarminta. Edisi kelima terbit pada tahun 1976. Kemudian pada tahun 1988 terbit Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dimaksudkan sebagai kamus baku untuk bahasa Indonesia. Kamus ini merupakan hasil karya tim, dengan pemimpin redaksi Sri Sukesi Adiwimarta dan Adi Sunaryo, dan penyelia Anton M. Moeliono. Edisi ketiga Kamus Besar Bahasa Indonesia diterbitkan pada tahun 2002. Kamus edisi ketiga ini memuat sekitar 78.000 lema.

Selain Pusat Bahasa berbagai pihak lain turut pula menyelenggarakan kamus bahasa Indonesia. Kamus besar Bahasa Indonesia yang patut disebut di sini adalahKamus Indonesia oleh E. St. Harahap (cetakan ke-9, 1951), Kamus Besar Bahasa Indonesia (1951), oleh Hassan Noel Arifin, Kamus Modern Bahasa Indonesia (1954) oleh Sutan Muhammad Zain.

 

2.2 Bentuk dan Jenis Kamus

      2.2.1    Berdasarkan Penggunaan Bahasa

1.      Kamus Ekabahasa

Kamus ini hanya menggunakan satu bahasa. Kata-kata(entri) yang dijelaskan dan penjelasannya adalah terdiri daripada bahasa yang sama. Kamus ini mempunyai perbedaan yang jelas dengan kamus dwibahasa kerana penyusunan dibuat berasaskan pembuktian data korpus. Ini bermaksud definisi makna ke atas kata-kata adalah berdasarkan makna yang diberikan dalam contoh kalimat yang mengandung kata-kata berhubungan. Contoh bagi kamus ekabahasa ialah Kamus Besar Bahasa Indonesia (di Indonesia) dan Kamus Dewan di (Malaysia).

2.      Kamus Dwibahasa

Kamus ini menggunakan dua bahasa, yakni kata masukan daripada bahasa yang dikamuskan diberi padanan atau pemerian takrifnya dengan menggunakan bahasa yang lain. Contohnya: Kamus Inggris-Indonesia, Kamus Dwibahasa Oxford Fajar (Inggris-Melayu;Melayu-Inggris)

3.      Kamus Aneka Bahasa

Kamus ini sekurang-kurangnya menggunakan tiga bahasa atau lebih. Misalnya, kata Bahasa Melayu Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin secara serentak. Contoh bagi kamus aneka bahasa ialah Kamus Melayu-Cina-Inggris Pelangi susunan Yuen Boon Chan pada tahun 2004

2.2.2     Berdasarkan Isi

Berdasarkan isinya kamus dibedakan sebagai berikut.

1.  Kamus lafal, adalah kamus berisi lema-lema yang disusun dari a sampai z, disertai dengan petunjuk cara mengucapkan lema-lema tersebut dan tidak ada keterangan lain.

2.  Kamus ejaan adalah kamus yang mendaftarkan lema dengan ejaan yang benar, sesuai dengan pedoman ejaan, serta pemenggalan kata atas suku katanya.

3.   Kamus sinonim adalah kamus yang penjelasan makna lemanya hanya berupa sinonim (persaaman kata) dari kata-kata tersebut, baik dalam bentuk sebuah kata maupun dalam bentuk gabungan kata.

4.   Kamus antonim, adalah kamus yang penjelasan lemanya dalam bentuk kata yang merupakan kebalikanya, lawanya, atau kontrasnya.

5.  Kamus homonim, adalah kamus yang mendaftar bentuk-bentuk yang berhomonim beserta dengan makna atau penjelasan konsepnya.

6.   Kamus ungkapan atau idiom, adalah kamus yang memuat satuan-satuan bahasa berupa kata atau gabungan kata yang maknaya tidak dapat di prediksi dari unsur-unsur pembentuknya, baik secara leksikal maupun gramatikal.

7.   Kamus singkatan atau akronim, adalah kamus yang hanya memuat singkatan kata dan akronim yang ada dalam satu bahasa.

8.  Kamus etimologi, adalah kamus yang penjelasan lemanya bukan mengenai makna, melainkan mengenai asal usul kata itu, serta perubahan-perubahan bentuknya.

9.  Kamus istilah, adalah kamus yang hanya memuat kata-kata atau gabungan kata yang menjadi istilah dalam suatu bidang ilmu atai kegiatan tertentu.

2.2.3     Berdasarkan Ukuran

Berdasarkan ukurannya, kamus tergantung pada tebal-tipisnya. Tebal tipisnya tentu berkaitan tentu berkaitan dengan banyaknya lema yang disajikan dan banyak sedikitnya informasi yang diberikan (Chaer, 2007:198). Maka  berdasarkan ukuranya dapat dibedakan sebagai berikut :

1.   Kamus Besar, adalah kamus yang memuat semua kosa kata termasuk gabungan kata, idiom, ungkapan, pribahasa, akronim, singkatan, dan semua bentuk gramatika dari bahasa tersebut, baik yang masih digunakan maupun yang sudah arkais (tidak digunakan lagi atau tua). Merupakan dokumentasi kebahasaan yang paling lengkap dan dapat dijadikan acuan untuk menyusun kmus-kamus lain yang sifatnya terbatas, baik terbatas lemanya maupun terbatas penjelasanya.

2.  Kamus Terbatas, adalah kamus besar semua kata yang ada dalam suatu bahasa didaftarkan sebagai lema, maka dalam kamus terbatas ini jumlah kata yang dimasukkan sebagai lema dibatasi, begitu juga dengan makna dan keterangan-keterangan lain dibatasi. kamus terbatas ini di kelompokkan sebagai berikut :

a.   Kamus Saku, atau juga disebut dengan kamus kantong karena ukurannya yang kecil dan tidak tebal sehinga dapat dimasukan kedalam saku baju. Kata-kata yang didaftarkan sebagi lema hanyalah kata-kata dasar (basic vocabulary) dari bahasa yang dikamuskan, begitu juga dengan penjelasannya hanya berupa padanan atau sinonom dari kata tersebut.

b.   Kamus Pelajar, merupakan kamus terbatas yang jumlah lemanya ditentukan oleh tingkat pendidikan dimana kamus itu digunakan.

2.3 Fungsi dan Penggunaan Kamus

Kamus merupakan hasil akhir dari kerja leksikografi adalah menghimpun semua kosakata yang ada dalam suatu bahasa. Karena kosakata merupakan wadah penghimpunan konsep budaya maka kamus berfungsi menampung konsep-konsep budaya dari masyarakat atau bangsa penutur bahasa tersebut. Hal tersebut juga sejalan dengan Ismail (dalam Birin, 2012) bahwa fungsi utama kamus adalah sebagai media penghimpun konsep-konsep budaya. Selain itu, kamus juga berfungsi praktis, seperti sarana mengetahui makna kata, sarana mengetahui lafal dan ejaan sebuah kata, sarana untuk mengetahui asal-usul kata, dan sarana untuk mengetahui berbagai informasi mengenai kata lainnya.

Fungsi dan penggunaan praktis dari kamus yaitu :

a)      Makna Kata, pada umumnya orang membuka kamus untuk mengetahui makna atau arti sebuah kata yang belum diketahuinya atau yang masih meragukannya.

b)      Lafal Kata, menjelaskan lafal atau ucapan sebuah kata yang baku dan yang tidak baku.

c)      Ejaan kata, member petunjuk bagaimana ejaan yang benar dari setiap kata.

d)     Penyukuan kata, mengetahui cara pemenggalan sebuah kata atau suku kata

e)      Kebakuan kata, mengetahui penggunaan kata baku dan kata tidak baku.

f)       Informasi lain-lain, member informasi mengenai kata, asal-usul kata, kategori gramatikal kata, bidang pemakaian kata dan pilihan penggunaan kata.

g)      Sumber istilah, untuk mencari istilah-istilah penting ketika seseorang akan membuat suatu konsep dalam suatu bidang keilmuan.

Penggunaan kamus menurut Widiyatmaka (2013) antara lain:

a)      Sebagai alat rujukan langsung.

b)      Sebagai standar pembakuan bahasa.

c)      Sebagai sarana untuk pengkajian bahasa.

2.4 Kendala-kendala Pengembangan Kamus di Indonesia

Pengembangan kamus berkaitan erat dengan pembuatan dan penyusunannya. Namun, dalam penyusunan kamus sendiri terdapat masalah-masalah yang menjadi kendala atau kesulitan bagi pengembangan kamus khususnya di Indonesia. Berikut Chaer (2007: 212-231) menguraikan hal-hal yang menjadi masalah atau kendala dalam penyusunan maupun pengembangan kamus di Indonesia.

2.4.1 Tujuan Kamus

Sebuah kamus disusun bukan asal disusun saja, melainkan ada tujuannya. Tujuan itu menyangkut  masalah kamus itu ditujukan kepada siapa dan seberapa besar ruang lingkupnya. Kalau kamus itu ditujukan kepada pemilik bahasa itu sendiri, maka kamus yang disusun adalah kamus ekabahasa. Kalau kamus itu ditujukan untuk orang yang bukan pemilik bahasa itu, maka yang harus disusun ialah kamus dwibahasa. Pembedaan kedua sasaran ini akan member pengaruh terhadap cara menyusun definisi atau makna untuk lema-lema yang didaftar. Definisi ekabahasa tidak cukup hanya berupa defnisi sinonimi; sedangkan pada kamus dwibahawa definisi sinonimi itu sudah memadai, klau memang ada padanan kata dari kedua bahasa itu.

Jika dikaitkan dengan pengembangan kamus di Indonesia, dimana bahasa Indonesia merupakan bahasa yang berasal dari bahasa melayu, maka kendala yang muncul ialah ketika dibuatnya sebuah proyek penyusunan kamus dwibahasa Inggris-Melayu oleh Universitas Negeri Australia. Mereka merumuskan bahwa kamus yang mereka kerjakan ini memiliki sasaran pembaca orang-orang yang belum mengenal bahasa Melayu. Pada awalnya yang dimakksud dengan bahasa Melayu di sini adalah bahasa Melayu Malaysia. Namun, kemudian tujuan itu dirasakan terlelu sempit, mengingat besarnya pengaruh bahasa Indonesia; apalagi sejak tahu 1972, ejaan Malaysia dan Indonesia adalah sama. Oleeh karena itu, tujuan diubah lagi menjadi meliputi bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia.

Kesulitan lain muncul, yaitu bagaimana membedakan atau menandai mana kata khas Malaysia, mana kata khas Indonesia, dan mana kata-kata yang terdapat di kedua bahasa itu. Nama kamus juga menjadi masalah, kalau diberi nama Kamus Inggris-Malaysia, maka bahasa Indonesia menjadi tidak termasuk, kalau diberi nama Kamus Inggris-Malaysia-Indonesia, maka seolah-olah menjadi kamus tiga bahasa, dan kalau diberi nama Kamus Inggris-Melayu, juga menjadi tidak tepat sebab secara politis bahasa Melayu hanyalah cikal bakal baik bahasa Malaysia mapupun bahasa Indonesia.

2.4.2 Korpus Data

     Apabila tujuan kamus telah ditentukan, masalah kedua yang akan muncul adalah korpus data atau sumber yang akan digunakan untuk mengumpulkan data. Korpus data menyangkut masalah substansi, masalah sumber, bahasa sasaran dan ruang lingup kamus yang akan dibuat. Jika sumbernya belum memiliki ragam bahasa tulis, maka satu-satunya jalan untuk mendapatkan korpus data itu adalah dengan merekam bahasa tersebut dari petuturan yang dilakukan oleh para penutur bahasa itu. Cara ini tentunya cukup menjadi kendala jika kamus yang dibuat adalah kamus bahasa daerah yang belum memiliki ragam bahasa tulisan.

2.4.3 Pengumpulan Data

Setelah masalah korpus data teratasi, masalah berikutnya ialah mengeni pengumpulan data. Misal saja yang akan disusun adalah kamus ekabahasa bahasa Indonesia. Maka data yang akan dikumpulkan bias berupa kata dasar (kata yang belum mengalami proses morfologi), kata berimbuhn (prefiks, infiks, sufiks maupun konfiks), kata berulang (utuh, berubah bunyi, berimbuhan progresif, regresif, dan sebagainya), kata gabung, bentuk-bentuk idiomatik, ungkapan dan peribahasa.

Masalah lain dari pengumpulan data ini adalah adanya bentuk-bentuk berkenaan dengan variasi ucapan dan perbedaan ejaan.Adanya kata-kata yang khas digunakan dalam dialek sosial maupun dialek areal juga menjadi permasalahan. Apakah semuanya ini didaftarkn juga atau tidak inilah yang menjadi masalah yang menjadi pertimbangan. Bahasa-bahasa yang penggunaannya cukup luas, biasanya memiliki sejumlah dialek areal atau subdialek areal. Maka, jika bahasa tersebut dibuatkan kamus, hendaklah dipilih salah satu dari dialek-dialek areal yang ada itu. Sebaiknya yang dipilih adalah dialek yang dominan.

2.4.4 Susunan Lema dan Sublema

     Data yang dikumpulkan dari korpus akan menjadi lema dan sublema dalam kamus yang akan disusun. Lema (entri) dalam bahasa Indonesia berup morfem dasar, baik yang bebas maupun terikat. Sedang sublema (subentri) berupa bentuk turunan yang berimbuhan, berulang maupun yang berkomposisi. Masalah-masalah yang bisa muncul dalam penyusunan lema dan sublema untuk kamus ekabahasa bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

2.4.4.1 Bentuk Dasar Terikat

Bentuk dasar terikat merupakan bentuk dasar yang tidak pernah digunakan dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu diberi proses morfologi seperti afiksasi, reduplikasi dan komposisi. Misalnya seperti kata abai, henti, juang, geletak dan lain sebagainya. Masalahnya adalah dimana lema seperti ini diletakkan. Maka, seperti yang ada pada Kamus Besar Bahasa Indonesia bentuk-betuk seperti ini tetap didaftarkan, namun tidak diberi makna karena memang tidak digunakan dalam pertuturan. Agar mudah, maka lema seperti ini tetap dimuat dengan mengikutkan sublemanya seperti contoh berikut.

            abai, mengabaikan …………………………..

            henti, berhenti…………………………………

                        meghentikan………………………….

            juang, berjuang……………………………….

                        memperjuangkan…………………….

            2.4.4.2 Urutan Sublema

Prinsip dasar penyusunan lema dan sublema adalah berdasarkan abjad. Maka sesudah lema yang berupa kata dasar akan diikuti oleh sublema yang berupa bentuk berimbuhan. Di dalam bahasa Indonesia, kemungkinan bentuk berimbuhan ini banyak sekali, meskipun sebuah bentuk (morfem) dasar tidak memiliki semua kmungkinan bentuk berimbuhan itu. Jadi, kan begitu rumitlah penyusunan sebuah kamus jika memperhatikan sublema yang begitu banyak.

Andaikata sebuah bentuk (morfem) dasar mempunyai semua kemungkinan bentuk berimbuhan (dalam kenyataanhingga kini belum ditentukan), maka secara alfabetis, dengan mengesmpingkan dulu kata ulang dan komposisi, baik yang murni maupun yang berimbuhan, haruslah disusun sebagai berikut (D’ = morfem dasar, bak terikat maupun tidak).

D.

D-n

D-i

D-nya

ber-D

ber-D-kan

diper-D-kan

ke-D

ke-D-an

keber-D-an

keter-D-an

me-D

me-D-kan

me-D-i

me-D-kan

member-D-kan

memper-D

memper-D-i

memper-D-kan

peN-D

peN-D-an

pember-D-an

pemer-D-an

per-D

per-D-an

per-D-i

per-D-kan

se-D

se-D-nya

se-D-an

seber-D

seper-D

seper-D-an

ter-D

ter-D-i

ter-D-kan

2.4.4.3 Kata Berimbuhan Bertahap

Bentuk dasar proses afiksasi bukan hanya berbentuk morfem dasar saja, tetapi banyak pula yang berasal dari turunan, artinya telah mengalami proses morfologi yang lain. Misalnya kata memberlakukan benuk dasar katanya adalah berlaku (yang berasal dari akar laku yang diberi prefix ber-). Masalahnya ialah menempatkan kata memberlakukan, di bawah laku atau berlaku. Penempatan sublema ini akan lebih bermasalah lagi jika bentuk dasar sebuah kata berafiks adalah gabungan kata yang memiliki sejulah turunan. Misalnya kata tanda tangan, menandatangani, dan penandatanganan.

2.4.4.4 Tempat Kata Ulang

Dalam bahasa Indonesia ada tiga macam kata ulang, yaitu kata ulang utuh, kata ulang sebagian dan kata ulang berubah bunyi. Kendala dalam penyusunan kamus ialah peletakan lema kata ulang misalnya berlari-lari, apakah diletakkan di bawah  berlari atau di bawah lari-lari.

2.4.4.5 Tempat Gabungan Kata

Di dalam bahasa Indonesia, penggabungan kata merupakan proses yang sangat produktif. Proses ini dilakukan untuk mewadahi suatu konsep yang belum ada kosakatanya secara morfofonemis. Permasalahannya terletak pada di manakah gabungan kata ini harus diletakkan, sebagai lema tersendiri, sebagai sublema atau sebgai apa?

Umpamanya ada deretan kata air, berair, mengair, mengairi,…..dan seterusnya. Kemudian ada gabungan kata misalnya cacar air, jambu air, mata air dan lain sebagainya yang diletakkan di bawah lema air karena mengandung morfem air. Namun bukankah cacar air misalnya juga dapat diletakkan di bawah lema cacar  karena mengandung morfem cacar. Jika ia maka penempatan gabungan kata cacar air akan berada di dua tempat sehingga tida efisien atau mubazir.

2.4.5 Masalah Makna

     Tujuan orang membuka kamus adalah untuk mengetahui makna kata. Namun, sering kali makna yang diterangkan dalam kamus malah menambah bingung. Masalah yang timbul dari pemberian makna ini antara lainsebagai berikut.

a)    Tidak adanya patokan kejelasan mengenai pemberian makna atau definisi dari sebuah kata.

b)   Sukar memberi makna untuk kata kerja.

c)    Banyak kata yang maknanya di satu tempat tidak sama dengan di tempat lain.

d)   Banyak kata yang maknanya telah berubah, bai total, meluas, maupun menyempit.

2.4.6 Label-label Informasi

     Sebagai bagian dari penjelasan makna kata, maka pada setiap lema utama perlu diberi keterangan dalam bentuk singkatan yang berkenaan dengan kelas kata, asal-usul kata, bidang pemakai dan kata-kata arkais atau kata-kata yang kini tidak digunakan lagi dalam pertuturan.

BAB III

PENUTUP

3.1.   Kesimpulan

Sejarah leksikografi di Indonesia dimulai dengan adanya catatan kosakata yang kurang lebih berjumlah 500 buah lema, Daftar Kata Cina Melayu, yang ditulis pada awal abad ke-15. Selanjutnya, pada tahun 1522, seorang pakar bahasa yang mengikuti pelayaran Magelheans mengelilingi dunia bernama Pigafetta menulis Daftar Kata Italia Melayu.

Fungsi kamus adalah membantu seseorang dalam mengetahui makna. Kendala-kendala penyusunan kamus antara lain tujuan kamus, korpus data, pengumpulan data, lema dan sublema, masalah makna, dan label-label informasi. Kamus memiliki jenis-jenisnya berdasarkan bahasa sasarannya yakni kamus ekabahasa, kamus dwibahasa dan kamus aneka bahasa. Berdasarkan ukurannya kamus terbagi atas kamus besar dan kamus terbatas. Kamus terbatas terdiri dari kamus saku dab kamus pelajar. Berdasarkan isinya terdiri dari kamus Lafal, kamus ejaan, kamus sinonim, kamus antonim, kamus homonim, kamus ungkapan/akronim, kamus etimologi, dan kamus istilah.

 

3.2.   Saran

Berdasarkan makalah yang kami buat, diharapkan para pembaca dapat mengetahui dan memahami sejarah perkamusan di Indonesia,bentuk dan jenis kamus, fungsi kamus serta kendala-kendala dalam pengembangan kamus di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Birin. 2012. “Perkamusan di Indonesia”. (Online) http://asasin-casas.blogspot.com/p/pendidikan.html. Diakses 16 Maret 2013.

Chaer, Abdul. 2007. Leksikologi dan Leksikografi Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Ismail, F.A. 2012. “ Sejarah Perkamusan di Indonesia”. (Online) http://fitriaapriliaismail.blogspot.com/2011/10/sejarah-perkamusan-di-indonesia.html . Diakses tanggal 18 Maret 2013

Widiyatmaka, Fredi. 2013. “Kamus dan Ensiklopedi”. (Online) http://plediepedhed.wordpress.com/2013/01/06/kamus-dan-ensiklopedi/. Diakses 17 Maret 2013.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s