PEMENTASAN DRAMA DI INDONESIA

Standard

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

 

   Menurut Herman (2003: 34) pementasan drama merupakan kerja kolektif yang dikoordinasikan oleh sutradara, yaitu pekerja teater yang dengan kecakapan dan keahliannya memimpin aktor-aktris dan pekerja teknis dalam pementasan. Selain itu ada pula produser yang memberikan biaya pementasan dan manager yang mengatur pelaksanaan pementasan. Biasanya sutradara tidak mampu merangkap sebagai manager  pementasan, demikian juga sutradara tidak mampu mengkoordinasikan seluruh teknisi. Untuk itu diadakan asisten sutradara yang tugasnya membantu sutradara dalam menangani tugas koordinasi itu, sedangkan art director membidangi hal-hal yang bersifat artistik (bukan teknis) seperti: rias, kostum, lampu, sound effect, dan sebagainya. Keberhasilan suatu pementasan tidak hanya ditentukan oleh sutradara, tetapi melibatkan banyak unsur yang secara serentak dan kompak harus mendukung pementasan itu. Perkembangan pementasan drama di Indonesia juga mengalami beberapa perubahan-perubahan dari waktu ke waktu.

 

1.2  Rumusan Masalah

 

          Dari latar belakang di atas, kami dapat merumuskan masalah diantaranya:

  1. Apa saja unsur dalam pementasan drama?
  2. Bagaimana perkembangan pementasan drama atau teater di Indonesia?

 

1.3  Tujuan

   Tujuan penulisan makalah ini antara lain:

  1. Untuk mengetahui unsur-unsur yang terdapat dalam pementasan drama.
  2. Untuk mengetahui perkembangan pementasan drama atau teater di  Indonesia.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Unsur-Unsur Pementasan Drama

 

  1. Aktor dan Casting

 Aktor  dan aktris merupakan tulang punggung pementasan. Dengan aktor-aktris yang tepat dan berpengalaman, dapat dimungkinkan pementasan yang bermut. Tokoh seperti teguh dari Srimulat, Usmar ismail, Wim Umboh, Teguh karya mampu mengorbitkan calon aktor  menjadi aktor yang cukup tangguh, dengan kemampuan yang memadai.

         Pemilihan aktor dan aktris biasanya disebut itu casting. Ada lima macam teknik casting, yaitu sebagai berikut :

  1. Casting by ability : Pemilihan peran berdasarkan kecakapan atau kemahiran yang sama atau mendekati peran yang dibawakan. Tokoh utama suatu lakon disamping persyaratn fisik dan psikologis, juga dituntut memiliki kecerdasan yang cukup tinggi, sehingga daya hafal dan daya tanggap yang cukup cepat.
  2. Casting to type : Pemilihan pemeran berdasarkan atas kecocokan fisik si pemain. Tokoh tua dibawakan oleh orang tua, tokoh pedagang dibawakan oleh orang yang berjiwa dagang, dan sebagainya.
  3. Anti type casting : Pemilihan pemeran bertentangan dengan watak dan ciri fisik yang dibawakan.
  4. Casting to Emotional Temprament : Pemilihan pemeran yang berdasarkan observasi kehidupan pribadi calon pemeran. Pengalaman masa lalu dalam hal emosi akan memudahkan  pemeran tersebut dalam menghayati dan menampilkan dirinya sesuai dengan tuntutan cerita.
  5. Therapeutic casting : Pemilihan pemeran dengan maksud untuk penyembuhan terhadap ketidakseimbangan psikologis dalam diri seseorang. Misalnya, orang yang selalu ragu-ragu, harus berperan sebagai orang yang tegas, cepat memutuskan sesuatu.

            Untuk dapat memilih pameran dengan tepat,  maka hendaknya  pelatih drama membuat daftar yang berisi inventarisasi wakta pelaku yang harus dibawakan, baik secara psikologis, fisiologis, maupun sosiologi. Dalam pementasan, aktor dan aktris harus ber-acting.

2. Sutradara

Sutradara yaitu mengkoordinasikan segala anasir pementasaan, sejak latihan dimulai  sampai dengan pementasan selesai. Tidak hanya acting yang diurusanya, tetpi juga kebutuhan yang berhubungan artistik dan tehnik, seperti : penyinaran, tatu sutrada rias, kostum, dan sebagainya. Sebab itu sutradara harus menguasai hal-hal yang berhubungan dengan segi artistik dan segi tehnis pementasan. Sutradara itu memiliki technical know how tentang bidang teknis dan artistik pementasan, meskipun untuk bidang itu di percayakan kepada orang lain. Ada beberapa tipe sutradara, yaitu sebagai berikut :

Berdasarkan bagaimana mempengaruhi jiwa pemain, ada dua macam sutradara,  yaitu sebagai berikut :

  1. Sutradara teknikus, yang mementingkan segi luar yang bergemerlapan.
  2. Sutradara Psikologi Dramatik, yang mementingkan penggambaran watak secara psikologis, dan tdak begitu menghiraukan faktor-faktor teknis atau luar

     Berdasarkan cara melatih pemain, ada tiga tipe sutradara, yaitu sebagai berikut:

  1. Sutradara Interpretator yang hanya berpegang pada interpretasinya  terhadap naskah secara kaku.
  2. Sutradara Kreator yang secara kreatif menciptakan variasi baru
  3. Gabungan Interpretator dan sekaligus Kreator, sutradara tipe ketiga ini dipandang yang paling baik.

 

Berdasarkan cara penyutradaraan terdapat dua macam, yaitu sebagai berikut:

  1.  Cara dictator atau cara Gordon craig, yang seluruh langkah pemainnya ditentukan oleh sutradara.
  2. Cara Laissez faire, yang actor-aktrisnya merupakan pencipta permainan dan peranan sutradara sebagai supervisor yang membiarkan pemain melakukan proses kreatif.     

          Aktor dan aktris merupakan pelaksanaan pementasan yang membawakan ide cerita lansung dihadapan publik. Untuk dapat berperan sebagai actor yang baik diperlukan proses latihan  yang cukup panjang. Latihan itu berupa latihan fisik, psikis dan penyesuaian dengan peralatan artistik serta peralatan teknis. Pemain waktu mampu memainkan berbagai watak dan peran,  Pemilihan peran yang tepat, kirannya akan membantu keberhasilan pementasan.

3. Penata Pentas

         Penata pentas berfungsi untuk menghidupkan peran di pentas, peralatan teknis akan membantu, peralatan tersebut meliputi ; pengaturan pentas (stage), dekorasi (scenery), tata lampu (lighting), tatasuara (sound system), dan segala sesuatu yang berhubungan dengan teknis pentas.

4. Penata Artistik

            Penata artistik berfungsi untuk mengatur secara artistik hal-hal yang berhubungan dengan pementasan secara langsung, biasanya terdapat bagian artistik bagian artistik berhubungan dengan tata rias(make up), tata busana (costum), tata musik dan efek suara (music dan sound effect). Menurut Nano (2003:64) ada dua jenis panggung, yaitu panggung prosenium dan panggung arena.

1. Panggung Prosenium adalah panggung yang hanya dapat dilihat oleh penonton dari satu sisi, yaitu dari depan saja.

            Karakteristik panggung prosenium :

  1. Berbentuk kotak
  2. Sisi kiri, kanan, dan belakang panggung bisa dijadikan jalan keluar-masuk pemain.
  3. Hal yang menguntungkan dari panggung prosenium adalah jika ditengah diletakkan set/dekor, maka bagian belakang set tidak akan tampak.
  4. Panggung Arena adalah panggung yang dikelilingi penonton sehingga setiap sudut bisa dilihat oleh penonton. Karakteristik panggung arena diantaranya:
  5. Berbentuk bulat
  6. Sekeliling pentas dapat dimanfaatkan untuk jalan keluar-masuk pemain dan pergantian set/dekor.
  7. Untuk kepentingan peletakan set/dekor karena sifatnya yang dapat dilihat dan berbagai sudut, maka diperlukan kehati-hatian dari kru panggung saat meletakkan set/dekor. Selain set/dekor dapat menutupi dan mengganggu pandangan penonton, bagian belakang set/dekor tetap akan tampak oleh sebagian penonton.

          Set/dekor adalah bagian benda/gambar dipanggung yang sifatnya permanen, misalnya: rumah. Set property berarti sisi dari rumah itu, yakni, lemari, tempat tidur, meja, kursi, dan lain-lain. Hand property adalah properti yang dibawa oleh pemain. Sedangkan yang disebut properti adalah pelengkapan dari set property.

        Tata rias menurut Nano (2003:73) erdiri dari tiga macam yaitu:

  1. Korektif
  2. Karakter
  3. Fantasi

  Tata rias korektif adalah tata rias yang digunakan ibu-ibu dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya untuk memperjelas dan mempercantik driri. Tata rias korektif bertujuan memperjelas wajah pemain agar bisa terlihat dari jauh, mengingat jarak antara pemain dan penonton, terutama yang duduknya paling belakang, agak jauh. Karenanya tata rias harus tebal. Untuk lebih memperjelas lagi, biasanya dibantu oleh tata cahaya.

  Tata rias karakter bertujuan memperjelas karakter pemain. Misalnya menjadi tua, jelek, penuh keriput. Lebih dari itu, tata rias karakter dapat juga menguat wajah sesorang menjadi buruk seperti didalam film Mission  Impossible. Wajah bisa berubah-ubah ,dicetak,digambar ,atau bahkan dibuat seperti binatang tergantung dari sasaran apa yang akan dibuat.Diluar negeri orang yang ada dalam bidang ini,dicatat dikepolisian setempat karena dia dicurigai dapat berbuat kejahatan dengan cara mengubah wajah.

   Tata rias fantasi berhubungan dengan khayalan atau imajinasi kata.tatarias dibuat di wajah ataupun dibadan .Misalnya mengkhayal tentang ratu ular maka piñata rias akan membuat tat arias seperti ular , badan-badan diberi sisik ular dan rambut dibuat seperti ular cobra.Ini yang disebut fantasi penata rias untuk membuat seluruh badan seperti ular.

          Menurut Nano (2003:76) ada tiga  jenis tata busana diantaranya:

  1. Tata busana korektif

Busana panggung biasanya perlu dikorektif atau dipertegas lagi. Misalnya bagian lengan perlu ditambah dengan bishand, pita atau renda.

  1. Tata busana karakter

Tata busana karakter berfungsi memperjelas identitas diri si tokoh itu sehingga karakternya lebih tampak. Misalnya pelajar memakai seragam sekolah. Guru mengenakan pakaian dinas guru.

  1. Tata busana fantasi

Tata busana yang tidak terdapat dalam keseharian kita, misalnya batman, superman, power ranger, roborcop, dan lain-lain.

 

2.2  Perkembangan Teater di Indonesia

           Kemunculan teater dimulai dengan teater tradisional tanpa naskah (bersifat improvisasi). Sifatnya supel, dapat dipentaskan di sembarang tempat. Teater tradisional menurut Kasim Ahmad (dalam Herman, 2003: 73-74) diklasifikasikan menjadi tiga macam:

 

  1. Teater Rakyat

Sifat teater rakyat antara lain improvisasi dan sederhana. Contohnya maknyong dan ketoprak.

  1. Teater Klasik

Sifat teater ini sudah mapan, artinya segala sesuatunya sudah teratur dengan cerita dan pelaku yang sudah terlatih, gedung pertunjukan yang memadai. Contohnya wayang golek, wayang kulit, dan wayang orang.

  1. Teater Transisi

Teater ini termasuk dalam teater tradisional namun gaya penyajiannya sudah dipengaruhi oleh teater barat baik dari segi jenis ceritanya musik, dekor, dan properti. Contohnya Dardanella, dan Srimulat.

Sejak tahun 1968, setelah Rendra pulang dari Amerika dan mendirikan Bengkel Teater di Yogya, mulailah zaman kemajuan teater. Berdirinya Taman Ismail Marzuki sebagai ajang kreativitas para seniman dan sering diadakan pementasan secara rutin.

     Dari mulai pementasan, teater sekolah, yang berjudul “Bebasari” oleh Rustam Effendi sampai pementasan teater profesional Sam Pek Eng Tay oleh (Riantiarno), merupakan cermin perkembangan Indonesia, baik sebagai bangsa maupun budaya baru yang khas istimewa dalam abad ini, Lephen (2000: 3-6).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

2.2  Kesimpulan

 

Berdasarkan apa yang telah kami pelajari bersama, kami dapat mengambil kesimpulan diantaranya:

  1. Unsur-unsur pementasan drama meliputi sutradara, aktor dan casting,  penata pentas, dan penata artistik..
  2. Perkembangan pementasan drama di Indonesia mengalami perubahan dari waktu ke waktu dari yang awalnya pementasan hanya berawal tanpa naskah, dan lebih mengutamakan improvisasi kemudian lambat laun menggunakan naskah dan mulai tercampur dengan budaya barat. Di samping itu, kedatangan Rendra dari Amerika membawa pengaruh yang besar dalam kemajuan teater Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Waluyo, Herman J. 2003. Drama: Teori dan Pengajarannya.

           Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widya

 

Riantiarno, N. 2003. Menyentuh Teater. Indonesia: MU 3 books

 

Purwaraharja, Lephen. 2000. Ideologi Teater Modern Kita.

          Yogyakarta: Pustaka Gondho Suli

 

Muhammad. 2011. “Unsur-Unsur Teater Sebagai Seni Pertunjukan”(Online) http:// http://id.shvoong.com/business-management/marketing/2205889-unsur-unsur-teater-sebagai-seni/ (diakses 18 Mei 2012)

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s