Menggunting Senja (Kontribusi Antologi Cerpen Rindu Mahabbah 2012 by: Diah Budiarti)

Standard

Pagi itu, kutatap langit dengan berani, kulirik awan dengan senyuman. Perlahan kulangkahkan kedua kaki menuju sekolah dengan perasaan riang dengan membawa sebuah tas cantik dari anyaman lidi hasil kerajinan emak. Hanya berisi sebuah buku tulis dan sebatang pensil untuk menulis. Sinar mentari begitu hangat membangkitkan semangat baru yang menggebu. Akhirnya, mimpiku  untuk mengenyam bangku pendidikan terlaksana setelah sekian lama menunggu emak bekerja keras membanting tulang. Setiap harinya beliau bekerja membuat kerajinan tangan kemudian dijual di pasar dekat balai desa. Angin sepoi perlahan menyentuh wajah polosku yang belum pernah tersapu bedak. Kicau burung bersahut-sahutan. Allahu akbar, sebuah prosesi yang indah.

“Teng..teng..teng…” bel masukpun berbunyi. “Selamat pagi anak-anak, kali ini kita memiliki teman baru, Maemunah, perkenalkan dirimu” kata bu guru padaku. “Baik Bu,” jawabku malu-malu. “Selamat pagi teman-teman, perkenalkan nama saya Maemunah”. Selesai memperkenalkan diri aku pun duduk. Jumlah teman sekelasku hanya lima belas orang. Konon katanya, sekolahku dijuluki sekolah kandang burung dara. Sekolah yang sederhana, bangunannya kecil, terdiri dari enam kelas yang tampak tua dan kian rapuh. Seperti bangunan pada masa kolonial Belanda. Sekolah ini memang merupakan sekolah tertua di Meulaboh dan belum berstatus negeri. Bangku dan papan tulis yang seadanya serta jendela kelas yang dapat dimasuki sekawanan angin mamiri. Begitu pula guru pengajarnya, minim sekali. Pantas jika peminatnya pun sedikit karena kalangan orangtua yang kondisi perekonomiannya termasuk kategori menengah ke atas pasti akan menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah elit seperti SD 1 Meulaboh.

Hal menarik dari masa putih merah hatiku adalah cerita mengenai sosok anak laki-laki yang bernama Sunar. Dia ketua di kelas kami. Dia sungguh jenius dan rajin. Apapun yang dikerjakan pastilah memuaskan. Sunar berasal dari keluarga yang kondisi perekonomian keluarganya cukup memprihatinkan. Bapak dan emaknya hanya pencari cacing tanah yang kemudian dijual kepada tengkulak. Sunar memiliki empat adik yang masih kecil. Sepulang sekolah ia selalu membantu meringankan beban kedua orangtuanya dengan menjadi loker koran. Sunar adalah sosok yang hebat dalam panggung kehidupan dengan kegemarannya menggunting senja. Seakan malam tak pernah datang. Hari-harinya selalu bersinar dan penuh semangat membara. Dia pernah mewakili kelas kami untuk lomba cerdas cermat dan berhasil membawa pulang piala penghargaan kebanggaan yang dinanti. Sunar bisa dibilang saingan beratku pada waktu itu. Sayangnya, dia juga gemar menjahili teman-temannya. Pernah pada suatu waktu, ketika aku sedang asyik membersihkan lubang hidungku di bawah pohon mangga sembari mengharap ada satu atau dua buah mangga yang jatuh, Sunar melempariku dengan sarang lebah. “Awas…hei gendut…jangan ngupil terus..!”. “Ahhh…” aku mengerang kesakitan. Lebah-lebah itu menyengat tangan kiriku. Tiba-tiba semuanya hitam, gelap hingga membuatku tak sadarkan diri.

Di lain waktu, tiba-tiba “hyaaaaaaaaaaaaaa…” suaraku membahana kencang. Ada yang menaruh cicak di dalam tasku. Padahal aku fobia sekali dengan cicak. Pasti ini ulah Sunar. Tak hanya aku, teman-teman yang lain pun juga menjadi objek kenakalan Sunar. Hidupnya begitu lengkap, prestasi yang luar biasa serta kenakalan yang super jempol.

Ketika kenaikan kelas, Sunar mendapatkan peringkat terbaik di kelasku sedangkan aku peringkat dua setelah Sunar. Luar biasa, sejak saat itu kami berpisah. Aku harus melanjutkan sekolah di Yogjakarta karena emak mendapatkan tawaran bisnis untuk kerajinannya.

“Jelek, kau mau ke mana?” tanya Sunar.

“Aku dan emak akan pindah dan menetap di Yogjakarta. Jika aku pindah nanti jangan lupakan aku ya Nar, kamu dan teman-teman tidak akan pernah terganti”.

“Apa kamu tidak menjenguk kampung halamanmu ini lagi?”

“ Insya Allah jika aku ada uang nanti aku akan ke sini. Aku pasti merindukan kalian semua”.

“jelek maafkan aku selama ini ya? Kau mau kan memaafkanku?”

“Atas apa? Hehehe”

“Ya atas kenakalanku..”

“Sudahlah, lupakan..”

“Benarkah kau sudah memaafkanku?”

“Iya, tenang saja..”

“Kau mau ikut aku Mae?”

“Ke mana?”

“Ke hatiku..hahaha”
“Ah dasar malah nggombal”

“Sudah, ayo ikut”.

Tiba-tiba Sunar menarik tanganku. Hari itu Sunar mengajakku bermain jalan-jalan ke kebun teh milik pamannya. Udara sejuk dan pemandangan yang indah benar-benar bisa aku nikmati di sana. Padang ilalang menari-nari di samping kebun, menggoda kami untuk berlari, kejar-mengejar disaksikan dewa matahari. Kami bermain berdua hingga fajar menyingsing. “Sunar, dari semangatmu aku banyak belajar, terimakasih untuk hari ini” gumamku dalam hati.

Butiran air mata menemani keberangkatanku ke Yogjakarta sekaligus menjadi saksi bisu atas perpisahan dengan sahabatku, Sunar. Aku menatap wajahnya yang lugu, “jangan lupa beri kabar ya? Kita pasti bermain lagi” senandungnya lirih. Akupun mengangguk. Aku tak henti menangis dalam buaian emak.

Bersekolah di SMPN 1 Yogjakarta membuatku senang sekaligus sedih. Senang karena mendapatkan teman-teman baru. Sedih karena sahabat sekaligus motivatorku, Sunar berada jauh dariku. Bagaimana caranya agar aku bisa menghubunginya sedangkan Sunar tidak memiliki alat komunikasi. Ku tuliskan sepucuk surat untuk Sunar, hampir sebulanpun tak ada balasan. Ya Rabb, aku merindukannya. Jeritan emak membangunkan lamunanku. “Ada apa Mak?” tanyaku. “Lihat berita di TV, kampung kita terkena bencana tsunami”. “Hah?” seketika itu aku histeris. Urat nadi yang tertekan, aliran darah yang melemah, mata yang memerah, benar-benar dapat ku rasakan.

26 Desember 2004 yang dulunya asri kini kampung halamanku rata dengan tanah. Sunar?? Bagaimanakah dengannya? Akankah ia masih hidup? Sempat beberapa waktu setelah kejadian itu emak dan aku pulang ke kampung halaman melihat kabar sanak saudara yang ada di sana, aku juga mencari Sunar namun tidak ku temukan. Kabar dari Rokayah, temanku waktu di SD, Sunar wafat sebelum aku sempat menemui sosok Sunar dewasa. Bersama Rokayah aku ditunjukkan tempat jasad Sunar dievakuasi. Dalam ketidakberdayaan, aku berdoa agar Sunar diterima di sisi Allah.

Sang jenius itu telah pergi. Sunar, jadilah sahabatku lagi di kehidupan mendatang. Perlahan ku perhatikan bekas sengatan lebah di tangan kiriku. Setelah ku amati ternyata membentuk cinta kecil. Mungkinkah ini pertanda bahwa Sunar menyayangiku dari alam sana? Aku hanya mampu berkhayal dengan sejuta imajiku, imajinasi pembawa rindu pada sosok Sunar, sahabat masa kecilku. “Hehehhe” tawaku begitu dipaksakan seraya menghibur diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s