Distorsi Alam (cerpen termuat di Koran Kampus Bestari UMM 2013)

Standard

Sekejap itu pula malam berganti dengan semburat warna jingga. Perlahan sinarnya menyentuh bibir langit, meraup rona gelap cakrawala. Nampaknya pagi tengah menyelinap dengan kesengajaannya ketika orang-orang semesta hendak memulai rutinitasnya masing-masing. Burung-burung berpelesir di pematang sawah milik para petani yang kian menguning, siap dituai. Tanpa berisik mereka sejenak beterbangan mencari bulir-bulir padi tanpa menghiraukan orang-orangan sawah yang tersentuh angin sepoi.

Pagi serasa memanggil setiap insan untuk bergerak. Namun kesejukan angin menggulung malam perlahan, menggantinya dengan terang, membuat manusia-manusia sejenak pun tak ingin meninggalkan tempat mimpinya yang amat nyenyak. Pagi semakin menggigil dengan dingin yang tak mampu dibahasakan embun. Begitu indah bahasa Khalik melalui alam semesta.

Kupandangi helai-helai daun kering menyeruak di sepanjang jalan setapak yang kulintasi. Mereka berbisik, suatu kegelisahan yang amat sangat nampaknya terlukis jelas di raut wajah mereka masing-masing. Keningku mengerut. Bimbang. Hati bertanya-tanya ada apakah gerangan? Seakan dialog yang mereka dendangkan secara diam-diam itu tak ingin didengar oleh siapapun. Kuacuhkan saja segenap lakon yang mereka mainkan. Kualihkan pandangan pada petak-petak sawah, juga pepohonan yang begitu karib membuat asri tanah kelahiranku ini bahkan sebelum aku dilahirkan. Pohon-pohon yang berhasil ditanam oleh kedua tangan kakek. Desaku yang hijau, desaku yang permai, pekarangan rumah pemicu segala jenis insekta pemburu si manis madu. Ah, aku semakin mempercepat langkah. Tak sabar ingin segera mencium dan memeluk orang tersohor dalam hidupku itu. Tak berubah. Kulihat sekilas, semua masih sama seperti dua tahun lalu ketika aku memutuskan pergi ke tanah rantau, Kota Apel Malang tuk panjat ilmu setinggi tebing. Desaku tetap berseri.

“Sunar!”. Suara itu berasal dari arah barat. Kuarahkan kedua bola mataku pada suara yang menggaung itu. Dari kejauhan, nampak kakek seraya melambaikan tangannya yang kaku. Rupa-rupanya kakek masih tetap sama seperti alam di sini. Kecintaannya bercocok tanam tak dapat dilekangkan apapun meski usianya mulai senja seperti padi yang mulai menguning di pematang sawah belakang rumah. Kakek, sosok yang semangatnya tak pernah padam. Sikap rajinnya sulit terhantam badai kemalasan dan beliau masih saja setia melayangkan alkisah tentang tata cara bercocok tanam yang baik dan benar kepada masyarakat sekitar yang sekiranya mau untuk beliau ajak berbagi ilmu. Sahabatnya adalah pepohonan, tanaman obat-obatan, dan aneka ragam tanaman hias. Bisa dibilang beliaulah kekasih alam. Kekasih yang amat sangat setia. Karena beliau yakin, alam tak pernah ingkar. Alam selalu memberikan napas kehidupan sepenuhnya untuk kita, manusia. Sejatinya, alam adalah saksi bisu atas segala lakon manusia di panggung kehidupan. Desir angin membuyarkan lamunanku. Lalu kujawab sapaan beliau sambil kuhampirinya di sebuah perkebunan yang sedang beliau pijak.

“Assalamu’alaikum Kek?”

“Wa’alaikumsalam…Kamu sudah liburan?”

Nggih Kek, aku sudah liburan….”

Kami melanjutkan perbincangan di sebuah gubuk kecil yang terletak di tengah perkebunan. Senyuman kakek cukup menjadi obat yang paling mujarab untuk mengobati rasa rinduku pada sang tua tangguh itu.

Sebulan terasa hanyut dalam aliran sang waktu yang mengalir begitu deras bak air yang diterjunkan dari ketinggian tertentu. Waktu memaksaku untuk pulang ke kota rantau melanjutkan rajutan mimpi. Kutinggalkan kakek yang waktu itu kondisinya sedang sakit. Sebenarnya aku tidak tega meninggalkan kakek sebatang kara di rumah. Kutitipkan ia pada tetangga, Karno. Aku juga percaya alam akan menjaga dan membuat pulih kakekku itu. Kulangkahkan kaki menapaki jalan pinggir sungai perlahan menjauh dari desa tempat aku dan kakek tinggal.

Kota Malang tak pernah berubah. Hawa dingin selalu permisi menyentuh sekujur tubuhku yang kurasa selalu menjadi ciri khas ketika aku telah sampai pada tempat rantauan ini. Kejadian seperti itu selalu kualami ketika menginjakkan kaki di Kota Apel. Ketika aku pertama kali datang menginjakkan kaki di kota ini pun tak pernah hilang hawa dingin yang selalu sigap menyambut siapapun yang datang. Kulintas lagi rajutan mimpi yang sempat terhenti sebulan.

Kereta api seakan merayap begitu lamban. Cairan hangat tak dapat dibendung lagi, keluar meleleh menuju muara yang tak menjanjikan. Perasaan kacau balau menyelinap di pikiranku, kuliah pun sejenak kutinggal. Hari itu langsung kutempuh jalan pulang ke kampung halaman. Kabar dari Karno kakek wafat. Ia memberi kabar itu melalui pesan singkat. Satu-satunya orang yang tersisa dari keluargaku itu terpaksa harus pergi menyusul pulangnya bapak dan ibu setahun yang lalu ke Rahmatullah. Hanya tinggal aku sendiri saat ini. Keluarga yang tersisa pun tiada sapa, tiada peduli. Kurapalkan doa dalam hati seraya berdoa semoga kakek diterima di sisi-Nya.

Kutapaki jalan menuju rumah kami. Tak seperti biasanya. Dalam benak terasa tak enak. Kuhampiri sejenak kakek pada tempat peristirahatan terakhirnya. Dedaunan yang kusaksikan dulu kujumpainya lagi dalam keadaan menangis. Hal demikian semakin membuat pikiranku kacau, mematikan langkah yang tertatih. Apalagi cerita yang kudengar bahwa lahan perkebunan kakek dibeli secara paksa oleh pemerintah.

Air mataku semakin menganak sungai. Kakek meninggal karena sakit jantungnya yang akut sebab pembelian perkebunannya secara paksa. Kini kampungku tak seelok dulu. Pembangunan  yang dicanangkan pemerintah menjulang tinggi bak gedung pusat pertokoan pencakar langit. Gedung-gedung yang dibangun di atas tanah perkebunan kakek. Tiada lagi pepohonan yang selalu memberikan hawa dingin di setiap napas yang kuhirup, pepohonan yang tidak berdosa telah ditebang habis-habisan dan mati dalam ketidakberdayaan. Sikap manusiawi telah lenyap tertelan ambisi duniawi yang hanya ingin memburu profit sebanyak-banyaknya. Mereka singkirkan sumber-sumber oksigen, penangkal banjir, dan perindang desa ini. Sebuah agenda distorsi alam yang mereka pentaskan dengan begitu sadis.

Semenjak kejadian itu, kuputuskan untuk jarang pulang. Sebulan kemudian kudengar kabar dari siaran sebuah stasiun televisi swasta bahwa di daerahku tertimpa bencana banjir bandang. Stasiun televisi juga mengabarkan bahwa beberapa kota lain juga terjadi banjir bahkan dengan ketinggian yang tidak diduga-duga. Gedung yang dibangun pemerintah di daerahku mengalami kerusakan akibat  air bah yang ada tak kunjung surut hingga dua pekan terakhir.

**

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s