Bukankah Kita Bhineka Tunggal Ika? “Stigma tentang Masyarakat Banyuwangi” (artikel majalah Jurusan BSID FKIP-UMM volume I/2013)

Standard

Selayang pandang Banyuwangi menggugah sepasang mata kita untuk tertuju pada gambar dan patung penari gandrung yang terdapat di setiap pilar-pilar kecamatan yang menjadi sekat antardaerah juga tugu pertigaan, perempatan maupun simpang lima. Memang, Banyuwangi terkenal dengan kesenian gandrung hingga kesenian tersebut menjadi icon kota yang khas dengan kue bagiak ini. Tak berubah, daerah yang terletak di ujung Jawa Timur dan juga khas dengan motif batik gajah uling ini masih kental dengan tradisi sastra lisan berupa mantra-mantra daerah setempat.

Histori menyapa akrab Banyuwangi dengan sapaan Blambangan. Masyarakatnya bernama masyarakat Osing dengan Bahasa Osing sebagai bahasa sehari-hari. Tidak seperti Bahasa Jawa yang memiliki tingkatan bahasa dari yang paling dasar yakni ngoko hingga yang paling atas krama inggil, Bahasa Osing tidak memiliki tingkatan. Zaman dahulu di Banyuwangi terdapat sebuah kerajaan bernama Blambangan yang terkenal dengan raja bernama Minak Jinggo, raja yang terkenal amat sakti. Pusat pemerintahan Kerajaan Blambangan terletak di Daerah Macan Putih Kecamatan Rogojampi. Tradisi lisan berupa mantra-mantra telah berkembang sejak zaman Kerajaan Blambangan ini, masyarakat Banyuwangi dianggap sebagai keturunan terakhir dari Kerajaan Blambangan. Oleh karenanya, dipercayai sebagai masyarakat yang sakti, pemuja mantra. Hanya sedikit ditemukan tradisi tulis peninggalan zaman itu. Naskah kuno yang tersisa adalah Sritanjung dan sampai saat ini masih tekun dilestarikan oleh masyarakat Osing. Daerah penyebaran tradisi lisan mantra-mantra di Banyuwangi terletak di Desa Kemiren, Olehsari Kecamatan Glagah, Majapanggung Kecamatan Giri, Gladak, Watukebo, dan Mangir Kecamatan Rogojampi.  Hingga saat ini masyarakat Banyuwangi masih setia melestarikan sastra lisan mereka. Mantra-mantra tersebut berbentuk puisi lisan yang terdiri dari tiga jenis; mantra santet, mantra sihir, dan mantra penyembuhan. Mantra yang paling populer adalah sabuk mangir dan jaran goyang. Sabuk mangir termasuk dalam mantra santet, sedangkan jaran goyang merupakan sejenis ilmu mahabbah atau pengasihan. Mantra Banyuwangi dikenal amat mujarab.

Iklim mistis menyeruak segala hal mengenai sesuatu baik-buruk yang tersemat pada kota Gandrung ini. Dengan tradisi sastra lisannya berupa mantra-mantra yang masih dimenarakan, tak heran jika Banyuwangi dilirik dengan stigma sebagai gudang dukun. Hal mengherankan akan dialami masyarakat Banyuwangi ketika mereka berada di luar daerah Banyuwangi. Mereka cenderung akan disegani bahkan ditakuti. Hal ini dicetus oleh pandangan miring sebagian kalangan masyarakat lain yang memang paham benar figur kota Banyuwangi sebagai kota mistis berpenghuni orang-orang mistis. Pandangan tersebut perlu diluruskan. Bagaimanapun stigma semacam ini hanya akan memunculkan bibit perpecahan antarsuku. Bukankah Ibu Pertiwi adalah negeri yang selalu mengagungkan semboyan Bhineka Tunggal Ika-nya? Makna filosofis dalam untaian kalimat tersebut hendaknya menjadi renungan yang mendalam, bukan sekedar berpandai-pandai melantunkannya secara khidmat. Dengan berbagai variasi, bangsa kita Indonesia telah mampu menunjukkan eksistensi dengan performansi ciri khas masing-masing daerah yang beraneka ragam. Keanekaragaman tersebut menjadikan kita kaya, lengkap, bahkan sempurna. Sangat disayangkan jika perbedaan tersebut menjadi tombak yang siap menghantam Indonesia sendiri pada perpecahan yang berujung pada tirai kehancuran. Setiap individu hendaknya bersikap lebih bijak dalam menghargai perbedaan dan mampu bersikap netral. Figur yang tersemat di jas suatu daerah dapat diterima dan dipahami secara baik dengan penuh kesahajaan.

Dalam konteks ditakuti, jelas takut merupakan suatu hal yang lazim. Namun kita harus mampu menempatkan rasa takut pada tempat yang tepat. Tidak perlu takut jika kita tidak bersalah. Dalam hal ini diperlukan penanaman budi pekerti luhur sedari dini guna membentuk pribadi berkarakter positif yang siap bergaul secara baik dengan pribadi-pribadi lain yang bervariasi. Sedangkan dalam konteks menyegani masyarakat Banyuwangi oleh karena budayanya yang sedemikian kental, hendaknya segan diberikan tidak secara menganak tiri. Artinya, sikap menyegani dan menghormati diberikan tidak hanya pada masyarakat Banyuwangi tetapi seluruh lapisan masyarakat tanpa melihat warna-warni jas yang mereka kenakan sebagai identitas dan ciri khas masyarakat tersebut. Hal semacam ini guna mewujudkan kehidupan sosial yang egaliter dan menjunjung tinggi solidaritas negeri merah putih sebagai negeri dengan penghuni yang berbeda-beda namun tetap satu jua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s