AKANKAH EKSISTENSI BAHASA INDONESIA DIMUSEUMKAN? (essay juara II Kajur Cup 2012)

Standard

Saya selaku mahasiswa yang bernaung di ranah Bahasa Indonesia merasa sangat miris ketika membaca berita yang disuguhkan oleh koran kampus Bestari edisi Februari 2012 yang menyatakan bahwa Bahasa Indonesia mulai ditinggalkan. Fenomena ini sudah selayaknya kita sadari sejak kemunculan bahasa alay sebagai bahasa yang membahana bangsa Indonesia sehingga mampu mengalihposisikan eksistensi Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sekaligus bahasa pemersatu. Kemunculan bahasa alay didasarkan pada produktifitas bahasa yang dihasilkan oleh sebagian besar kalangan remaja yang memang hobi dalam menciptakan kata-kata baru kemudian kata-kata tersebut disepakati bersama di lingkungan masyarakat.

Jika ditinjau dari segi fonologi atau ilmu yang mempelajari tentang bunyi bahasa, bahasa alay ini bukanlah suatu problematika yang fatal. Artinya dari segi fonologi bahasa alay ini dapat diterima karena dapat dikategorikan sebagai alofon, yakni keberagaman bunyi bahasa namun masih tetap dalam satu arti. Sedangkan dari segi semantis atau maknawi, bahasa alay mengalami problema dari segi konvensional bahasa itu sendiri. Seseorang yang telah memahami bahasa alay dapat dipastikan ia akan mampu berkomunikasi dengan baik. Sebaliknya jika seseorang yang tabu akan bahasa alay, ketika ia  mendengar pertama kali ujaran bahasa alay maka akan ada tanda tanya besar dalam benaknya karena mengalami kesulitan dalam memahami apa makna yang tersirat dari bahasa alay yang diujarkan oleh si penutur.

Bahasa alay, sebagai bahasa yang terkesan unik, lucu dan menarik jika dilihat dari kacamata positif menunjukkan bahwa bangsa Indonesia begitu kreatif dan bersemangat tinggi dalam aksi menciptakan kata-kata baru. Performansi dari bahasa alay itu sendiri mampu digandrungi banyak lapisan masyarakat terutama kaula muda. Sebagai contoh di mana-mana terdengar kata ciyus yang bermaksud untuk mengucapkan kata serius dan kata enelan yang bermaksud mengucapkan kata beneran. Entah mengapa hal ini begitu membumi dengan cepat. Kemungkinan dikarenakan bahasa alay lebih elastis di lidah jika dilafalkan sehingga terasa nyaman saat digunakan.

Jika kita menyadari efek dari bahasa alay yang membumi ini kita akan mengetahui pula kesadisan bahasa alay yang justru mampu menggeser bahkan menggilas Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seharusnya kita mampu bersikap lebih bijak dalam menyikapi dan memahami globalisasi bahasa alay ini. Bagaimanapun Bahasa Indonesia adalah identitas atau simbolisasi jati diri bangsa Indonesia yang telah sekian lama tersemat di jas ibu pertiwi. Kita sebagai bangsa Indonesia yang baik hendaknya mampu melakukan filtrasi terhadap kebudayaan-kebudayaan yang masuk secara perlahan. Sesuatu baru yang masuk tersebut perlu pertimbangan matang agar kita memperoleh manfaat dan syafaat dari hal yang lebih banyak mengandung nilai positif dan multiguna.

Berbicara mengenai para produsen bahasa alay yakni para muda-mudi Indonesia perlu kita sikapi dengan bijak dan waspada. Mengapa demikian? Sangat disayangkan jika nantinya negara ini dipimpin oleh pujangga-pujangga kreatif namun kurang memaknai nasionalisme. Pemimpin-pemimpin yang tidak kritis jika kebudayaan selaku simbolisasi jati diri justru diperjuangkan negara lain. Saya bangga sekaligus sedih melihat fenomena bahwa Bahasa Indonesia ternyata dikaji oleh negara asing sedangkan kita sebagai pemilik yang sah justru duduk manis dan mengipaskan diri seraya membuat bahasa baru sebagai agenda pendistorsian Bahasa Indonesia. Tidak dapat dibayangkan bagaimana jadinya jika hak paten Bahasa Indonesia disematkan pada pihak asing. Kemungkinan di saat itu barulah bangsa Indonesia sadar dan merintih akan hilangnya mutiara dari sebuah Bahasa Indonesia. Namun yang menjadi sebuah kebanggaan adalah ketika bahasa kita, Bahasa Indonesia ini dipelajari oleh negara lain. Secara spontanitas Bahasa Indonesia telah bereksistensi di dunia meskipun tidak di semua negara.

Bagaimanapun bangsa yang baik adalah bangsa yang tidak meninggalkan kebudayaannya. Bercermin dari pernyataan tersebut hendaknya kita selaku bangsa Indonesia yang berkomitmen menjunjung tinggi bahasa persatuan yakni Bahasa Indonesia tetap mempertahankan, menjaga, dan melestarikannya. Jangan sampai ultimatum Sumpah Pemuda akan berubah bunyi menjadi menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa alay. Hal tersebut sangat tidak diharapkan. Budaya baru apapun yang masuk dapat kita terima dengan baik tanpa meninggalkan kekhasan yang ada pada jiwa raga Indonesia.

Untuk menyikapi membuminya bahasa alay salah satu cara sederhana yang dapat diimplikasikan adalah dengan menggiatkan program pembentukan karakter sedini mungkin terutama dalam hal berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini ditekankan pada anak usia SD di mana mereka secara psikologis masih mudah dituntun dan diarahkan agar mendapatkan pemahaman yang baik tahap demi tahap. Hal ini sebagai wujud tindakan preventif atau pencegahan untuk meminimalisir terjadinya kesemerawutan Bahasa Indonesia pada generasi yang mampu menjawab tantangan di masa mendatang.

 

 

Daftar Pustaka

 

 Bestari. Febuari 2012. “Bahasa Indonesia Mulai Ditinggalkan”. Halaman 6.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s