404

Standard

Sekawanan tikus berlarian, nampaknya mereka saling berkejaran, entah apa yang akan mereka dapatkan untuk santapan makan pagi. Mengejar asa yang jelas maya. Anehnya mengapa mereka bisa hidup di ruangan sesempit ini? Pengap menyelimuti sekujur ruangan yang kupijak, tak bisa kulihat lagi sinar matahari yang biasa kudapatkan seperti di tempat sebelumnya. Hanya segaris, dan itu keluar dari lubang kecil, ventilasi yang minim. Aku kehilangan sinar yang agung, sinar yang memberiku kehidupan. Kehidupan yang menjanjikan hingga segala kehormatan melekat secara spontan pada diriku. Tapi apa? Sehelai ganja yang kuisap mengantarkanku di tempat miris yang hanya berukuran 4×4 meter, dipagari jeruji besi. Kehidupan tak biasa sedang kujalani sekarang, pikiran kacau, kasus ini membuatku terhempas dalam ketidakberdayaan hingga aku terpelenting ke sudut ruangan.

Sejenak aku termenung, traumatis dengan kejadian beberapa hari yang sedang menimpa diri. 404? Nomor tahanan yang melekat pada pakaian khusus yang sedang kukenakan saat ini, hendaknya warta berita tentangku tak perlu ditabuh keras-keras lagi. Biarlah malu ini kugantung pada dinding-dinding langit tahanan yang siap menyaksikan perubahan dan pertaubatan atas lembar-lembar kesalahan yang kutabur, kurobek menjadi partikel-partikel kertas dosa yang berhamburan. Sepi, sendiri, ditemani sinar yang muncul dari lubang tembok, muncul tepat di depanku sosok yang juga dalam posisi duduk. Entah dari mana,  tiba-tiba sosok itu muncul.

“Hai Ardhi, selamat pagi” sapanya hangat, sehangat sinar mentari yang biasa aku dapatkan.

“Hai…maaf Kau siapa?” tanyaku.

“Aku adalah teman yang senantiasa bersamamu di manapun Kau berada, jadi Kau tak perlu resah, Kau tak akan sepi dan tak pernah sendiri.”

“Bagaimana mungkin? Kau pasti setan, aku yakin. Tadi Kau tak ada, dan baru sekarang Kau menampakkan diri.”

“Aku bukan setan, aku sahabat setiamu, jika Kau tiada, aku juga tiada.”

“Hssstt beraninya Kau mendoakan aku tiada, ha?”

“Ardhi, emosi tidak akan mengeluarkanmu dari lingkar setan!”

“Ah, tahu apa kau tentang emosiku? tidak usah sok!” cetusku.

“Emosiku juga emosimu, aku adalah dirimu. Kau tahu perbedaan kita?”

“Tidak! Sudahlah.” Aku mulai bosan.

“Dalam gelap Kau tetap ada sedangkan aku tiada.”

“Bagaimana bisa?” aku mulai penasaran.

“Ya, karena aku hitam, aku gelap, tapi yang gelap dan hitam belum tentu berhati gelap, jahat. Juga 404 yang melekat tidak terlihat jelas sepertimu.”

“Kau pasti yang membawaku dalam lingkaran nafsu, ya kan?”

“Kau salah Ardhi, justru aku yang senantiasa menemanimu dalam cahaya. Dalam cahaya aku ada, ketika Kau dalam gelap dan tanpa aku malah Kau menjerumuskan diri dalam lembah yang mengantarkanmu ke tempat ini. Sadarkah perbuatanmu itu salah besar? Menjadikan namamu tak sebaik sebelum ini…”

“Teruslah menceramahiku! Sampai puas!”

“Keras kepala! Kau selalu acuh padaku, sesekali dengarkan aku..! apa tidak cukup dalil-dalil yang tempo hari kita dapatkan di pengajian yang kita kunjungi? Masih ingat ketika ulama mengatakan narkoba sama halnya dengan meminum minuman keras, haram, membuat kita bereuforia, lantas tak sadarkan diri. Apa Kau hanya memasukkannya di telinga kanan lalu keluar lewat telinga kiri, ha? Percuma profesi sebagai penyanyi papan atas pelantun tembang islami tapi realitanya Kau..”

“Diaaaaaaaaam!! Bangsat!”

Kau banyak berceloteh. Mendung menutup perlahan terik sinar yang diberikan sang mentari. Tanpa berucap salam penutup kau memudar dengan sinar yang mulai remang-remang. Tiba-tiba ruangan berubah gelap dan kau mulai tiada. Aku menatapmu dengan nanar. Kutersadar bahwa kau memanglah bayangan.

“He Kau 404, diam jangan teriak-teriak!” kata si penjaga.

“Maaf.” hanya itu yang terucap.

Hawa hening sontak menutup perlahan perdebatan yang berakhir beberapa menit lalu. Aku memiliki kehilangan. Ingin kuhapus mendung di langit agar ia tak menutup jalannya terik mentari yang masuk dalam lubang tembok ruangan ini, sungguh. Perdebatanmu denganku tadi membuat aku sadar. Sadar sebagai hamba Allah yang salah.

“Kembalilah! Kembalilah!” teriakku kencang.

“He Kau 404, jangan teriak, sepertinya Kau lebih pantas di RSJ daripada di sini, tiada hujan bahkan angin Kau teriak-teriak.”

Tak kugubris kalimat yang dilontarkan penjaga sel tahanan. Aku masih sangat mengharapkan sosok bayangan tadi kembali. Akan kupeluknya erat, jika aku bisa. Dalam gelap aku bertahyamum, melaksanakan salat, berharap ketenangan itu ada. Tubuh tersungkur dalam sujud, semoga Allah mengampuni lumuran dosa dan menjamah segala doa.

Kurasakan energi yang mengalir tiba-tiba di dalam diriku. Sebuah ketenangan, sebuah penyesalan, dan sebuah kesejukan berbaur menjadi satu menyelinap dalam deburan ombak hati. Membuka laci memori tentang kedua orangtua, kutahu aku sangat berdosa, sangat mengecewakan, membuat segalanya menjadi buruk. Sebagai tulang punggung keluarga yang hanya bergantung pada talenta di bidang tarik suara, aku yang dulunya bukan siapa-siapa sempat bangkit dan naik daun. Upah yang di dapat lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan yang aku dan ibu perlukan. Bagaimanapun kebahagiaan tetap terasa kurang lengkap meskipun harta bergelimang bahkan melimpah ruah. Ayah telah berpulang ke Rahmatullah ketika aku duduk di bangku SMP. Ketiadaan ayah membuat suasana di keluarga kecil kami berubah karena tak selengkap dulu. Setidaknya jernih payahku adalah kado terindah untuk ibu yang membesarkanku seorang diri dengan kasih sayangnya yang tiada tara. Tapi sekarang? Aku hanya bisa menyesali perbuatanku yang sangat mengecewakan Ibu.

Ibu? Sedang apa beliau di sana. Ananda di sini sangat merindukanmu. Masih ingat saat itu beliau memberi nasehat tentang bahaya narkotika. Bagiku ibu terlalu cerewet. Namun di balik kecerewetannya, beliau sangat menyayangiku meski beliau adalah tipe orang yang tak mudah untuk mengucap kata sayang pada anaknya secara langsung. Beberapa waktu lalu aku sempat menghardiknya karena beliau mengganggu aktivitasku yang sedang asyik mengisap sehelai ganja. Waktu itu aku sedang stres, butuh sebuah euforia. Apa ini kutukan atas keberanian menghardik wanita yang menjadi letak surgaku itu? Cairan hangat di ujung mata perlahan meleleh membasahi pipi menyaksikan segala kegundahan.

Bangsat? Jika dipikir kata itu memang lebih pantas untuk diriku bukan bayanganku. Bayangan tak pernah ingkar, ia adalah sahabat yang setia, nalurinya selalu mengajarkan kebaikan. Sayangnya kuacuhkan. Aku baru mengenalnya di tempat ini, padahal ia bagian dari diriku.

Ingin segera bebas seperti sekawanan merpati, terbang tanpa beban di kedua sayap mereka. Terbang bebas keluar dari sangkar yang penuh tekanan. Meski sebenarnya mereka lebih aman dalam ketidakbebasannya karena jelas lebih terpelihara. Akan kubersihkan noda yang menempel pada sepenggal namaku meski bekasnya abadi, tak mampu kuhilangkan.  Dan kuubah gaya hidup pada tapak  jalan yang benar, dengan atau tanpa bayangan.

Sembari terdiam, kuhela napas panjang. Kupandangi pakaian yang kukenakan. Kini yang kutahu 404 adalah renungan, penyesalan, dan pertaubatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s