MEMAHAMI HAKIKAT, KONSEP TATA BAHASA DAN PRAGMATIK

Standard

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

   Bahasa merupakan alat utama dalam komunikasi dan memiliki daya ekspresi dan dan informatif yang besar. Bahasa sangat dibutuhkan oleh manusia karena dengan bahasa manusia bisa menemukan kebutuhan mereka dengan cara berkomunikasi antara satu dengan lainnya. Sebagai anggota masyarakat yang aktif dalam kehidupan sehari-hari, di dalam masyarakat orang sangat bergantung pada penggunaan bahasa.

   Para linguis biasanya memberikan batasan tentang bahasa sebagai suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang digunakan oleh sekelompok anggota msyarakat untuk berinteraksi serta mengidentifikasikan diri. Di sisi lain, setiap sistem dan lambang bahasa menyiratkan bahwa setiap lambang bahasa, baik kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana saelalu memiliki makna tertentu, yang bisa saja berubah pada saat dan situasi terentu  bahkan juga tidak berubah sama sekali.

    Namun demikian, biasanya tidak banyak orang yang mempermasalahkan bagaimana bahasa dapat digunakan sebagai media berkomunikasi yang efektif, sehingga sebagai akibatnya penutur sebuah bahasa sering mengalami kesalahpahaman dalam suasana dan kontekstuturannya. Salah satu cara untuk mengetahui tentang hal itu adalah melalui sudut pandang pragmatik dengan mengetahui hakikat tatabahasa. Dengan demikian maka akan dibahas dalam makalah ini tentang “Hakikat dan Konsep Tata Bahasa dan Pragmatik”.

 

1.2  Rumusan Masalah

       Berdasarkan latar belakang di atas, kami dapat merumuskan beberapa rumusan masalah di antaranya sebagai berikut.

1.2.1   Apakah hakikat tata bahasa dan  pragmatik itu?

1.2.2   Bagaimana konsep tata bahasa dan pragmatik itu?

 

 

1.3  Tujuan

     Tujuan dari penulisan makalah ini di antaranya sebagai berikut.

1.3.1   Menjelaskan hakikat tata bahasa dan Pragmatik.

1.3.2   Menjelaskan konsep tata bahasa dan pragmatik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Hakikat Tata Bahasa dan  Pragmatik

2.1.1  Hakikat Tata Bahasa

            Bahasa merupakan sekumpulan tanda, aturan, struktur dan pola yang terbentuk dalam satu kesatuan yang utuh. Dalam pembelajaran bahasa tentu tidak akan terlepas dari tata bahasa yang dalam bahasa Jermannya disebut Grammtik.

            Menurut Keraf (dalam  Misriyah, 2011: 1), tata bahasa merupakan suatu himpunan dari patokan-patokan dalam stuktur bahasa. Stuktur bahasa itu meliputi bidang-bidang tata bunyi, tata bentuk, tata kata, dan tata kalimat serta tata makna. Dengan kata lain, menurut Keraf  (dalam  Misriyah, 2011: 1) bahasa meliputi bidang-bidang fonologi, morfologi, dan sintaksis.

            Jadi, dapat disimpulkan bahwa tata bahasa sangat penting sebagai modal awal yang harus dikuasai oleh seorang penutur untuk bisa berkomunikasi dengan baik karena tata bahasa merupakan ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah  yang berupa struktur kebahasaan yang meliputi bidang ilmu Fonetik, Morfologi dan Sintaksis.

 

2.1.2 Hakikat Pragmatik

            Berikut beberapa pengertian dari Levinson (dalam Suwanto, 2009: 1) tentang pragmatik di antaranya sebagai berikut.

  1. Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan penafsirnya, sedangkan semantik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan objek yang diacu oleh tanda tersebut.
  2. Pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa, sedangkan semantik adalah kajian mengenai makna.
  3.  Pragmatik adalah kajian bahasa dan perspektif fungsional, artinya kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur linguistik dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebab-sebab nonlinguistik.
  4. Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa.
  5. Pragmatik adalah kajian mengenai deiksis, implikatur, praanggapan, tindak tutur, dan aspek-aspek struktur wacana.

Sedangkan Menurut Leech ( dalam Abdurrahman, 2009: 1), Pragmatik adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar  (speech situations) yang meliputi unsur-unsur penyapa dan yang disapa, konteks, tujuan, tindak ilokusi, tuturan, waktu, dan tempat.

Yule (1996:3-4) menyebutkan empat definisi pragmatik , yaitu:

  1. Bidang yang mengkaji makna penutur;
  2. Bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya;
  3. Bidang yang melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan
  4. Bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.

Jadi,  pragmatik mengacu pada kajian penggunaan bahasa yang berdasarkan pada konteks. Bidang kajian yang berkenaan dengan hal itu yang kemudian lazim disebut bidang kajian pragmatik adalah deiksis (dexis), praanggapan (presupposition), tindak tutur (speech act), dan implikatur percakapan (conversational inplicature).

 

2.2 Konsep Tata Bahasa dan Pragmatik

2.2.1 Konsep Tata Bahasa

    Fonologi

    Fonologi adalah ilmu tentang perbendaharaan fonem sebuah bahasa dan distribusinya. Fonologi adalah bagian tata bahasa atau bidang ilmu bahasa yang menganalisis bunyi bahasa secara umum. Istilah fonologi, yang berasal dari gabungan kata Yunani yaitu phone berarti bunyi dan logos berarti ilmu, disebut juga tata bunyi. Bidang ini meliputi dua bagian:

1)      Fonetik atau fonetika adalah bagian ilmu dalam linguistik yang mempelajari bunyi yang diproduksi oleh manusia. Fonetik mempelajari bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa direalisasikan atau dilafazkan.

2)      Fonemik, yaitu bagian fonologi yang mempelajari bunyi ujaran menurut fungsinya sebagai pembeda arti. Bunyi ujaran yang bersifat netral, atau masih belum terbukti membedakan arti disebut fona, sedangkan fonem ialah satuan bunyi ujaran terkecil yang membedakan arti. Variasi fonem karena pengaruh lingkungan yang dimasuki disebut alofon. Gambar atau lambang fonem dinamakan huruf. Jadi fonem berbeda dengan huruf.

  •  Untuk menghasilkan suatu bunyi atau fonem, ada tiga unsur yang penting yaitu:

          ·         udara

   ·         artikulator atau bagian alat ucap yang bergerak

   ·         titik artikulasi atau bagian alat ucap yang menjadi titik sentuh articulator

 

   Morfologi

  Morfologi secara harfiah berarti pengetahuan tentang bentuk. Morfologi adalah bidang linguistik atau tatabahasa yang mempelajari kata dan proses pembentukan kata secara gramatikal. Dalam beberapa buku tata bahasa, morfologi dinamakan juga tata bentukan.Satuan ujaran yang mengandung makna (leksikal atau gramatikal) yang turut serta dalam pembentukan kata atau yang menjadi bagian dari kata disebut morfem. Berdasarkan potensinya untuk dapat berdiri sendiri dalam suatu tuturan, morfem dibedakan atas dua macam yaitu:

  • Morfem terikat, morfem yang tidak mempunyai potensi untuk berdiri sendiri, sehingga harus selalu hadir dengan mengikatkan dirinya dengan morfem bebas lewat proses morfologis, atau proses pembentukan kata.
  • .Morfem bebas, yang secara potensial mampu berdiri sendiri sebagai kata dan secara gramatikal menduduki satu fungsi dalam kalimat. Dalam bahasa Indonesia morfem bebas disebut juga kata dasar. Satuan ujaran seperti buku, kantor, arsip, uji, ajar, kali, pantau, dan liput merupakan morfem bebas atau kata dasar; sedangkan me-, pe-, -an, ke–an, di-, swa-, trans-, -logi, -isme merupakan morfem terikat. Sebuah morfem, jika bergabung dengan morfem lain, sering mengalami perubahan. Misalnya, morfem terikat me- dapat berubah menjadi men-, mem-, meny-, menge-, dan menge- sesuai dengan lingkungan yang dimasuki. Variasi morfem yang terjadi karena pengaruh lingkungan yang dimasuki disebut alomorf.

 

   Sintaksis

                              Sintaksis berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu syn berarti bersama dan taxis berarti pengaturan. Sintaks adalah ilmu mengenai prinsip dan peraturan untuk membuat kalimat. Selain aturan ini juga digunakan untuk merujuk langsung pada peraturan dan prinsip yang mencakup struktur kalimat dalam bahasa apapun.

  • Penelitian modern dalam sintaks bertujuan untuk menjelaskan bahasa dalam aturan ini. Banyak pakar sintaksis berusaha menemukan aturan umum yang diterapkan disetiap bahasa.

 

        Semantik

                        Semantik diambil dari bahasa Yunani semantikos yang berarti memberikan tanda. Semantik adalah cabang linguistik yang mempelajari makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau jenis representasi lain. Semantik biasanya dikontraskan dengan dua asapek lain dari ekspresi makna; sintaksis, pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana, serta pragamatika, penggunaan praktis simbol oleh agen atau komunitas pada suatu kondisi atau konteks tertentu.

 

2.2.2 Konsep Pragmatik

      Menurut Rompas (2011: 1) adapun aspek-aspek dalam situasi ujar, di antaranya sebagai berikut.

  1. Yang menyapa (penyapa) atau yang disapa (pesapa). Orang yang menyapa (penutur) dan orang (petutur). Jadi, penggunaan penutur dan petutur membatasi pragmatik pada bahasa lisan saja.
  2. Konteks sebuah tuturan

Berkaitan dengan lingkungan fisik dan sosial sebuah tuturan. Konteks diartikan sebagai suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan petutur yang membantu petutur menafsir makna tuturan.

  1. Tujuan sebuah tuturan

Berkaitan dengan maksud penutur mengucapkan sesuatu.

  1. Tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegaiatn tindak ujar
    Pragmatik berurusan dengan tindak-tindak / performansi-performansi verbal yang terjadi dalam situasi dan waktu tertentu.
  2. Tuturan sebagai produk tindak verbal

Tindak ilokusi / ilokusi untuk mengacu pada tindakan-tindakan tuturan seperti yang dinyatakan dalam dan memakai istilah tuturan untuk mengacu pada tindakan tuturan seperti yang telah diterangkan dalam tindak ujar. Dengan memakai istilah tuturan untuk mengacu produk linguistic tindakan tersebut. Dengan demikian, dalam komunikasi yang berorientasi tujuan, meneliti sebuah tuturan merupakan usaha merekonstruksi tindakan apa yang menjadi tujuan penutur ketika ia merekonstruksi tindakan apa yang menjadi tujan penutur ketika ia memproduksi tuturannya.

 

Adapun konsep pragmatik di antaranya sebagai berikut.

Deiksis

Deiksis adalah kata atau frasa yang menunjuk kepada kata, frasa, atau ungkapan yang telah dipakai atau yang akan diberikan. Ada juga pendapat ahli yang menjelaskan bahwa sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi si pembicara dan tergantung pada saat dan tempat dituturkannya kata itu.

 

Praanggapan (Presupposition)

Praanggapan (presuposisi) berasal dari kata to pre-suppose, yang dalam bahasa Inggris berarti to suppose beforehand (menduga sebelumnya), dalam arti sebelum pembicara atau penulis mengujarkan sesuatu ia sudah memiliki dugaan sebelumnya tentang kawan bicara atau hal yang dibicarakan.

Selain definisi tersebut, beberapa definisi lain tentang praanggapan di antaranya adalah Levinson (dalam Nababan, 2012: 1) memberikan konsep praanggapan yang disejajarkan maknanya dengan presupposition sebagai suatu macam anggapan atau pengetahuan latar belakang yang membuat suatu tindakan, teori, atau ungkapan mempunyai makna. Yule (1996:43) menyatakan bahwa praanggapan atau presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Yang memiliki presuposisi adalah penutur bukan kalimat. Nababan (2012: 1), memberikan pengertian praanggapan sebagai dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar atau penerima bahasa itu dan sebaliknya, membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud.

Dari beberapa definisi praanggapan di atas dapat disimpulkan bahwa praanggapan adalah kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum melakukan tuturan bahwa apa yang akan disampaikan juga dipahami oleh mitra tutur. Untuk memperjelas hal ini, perhatikan contoh berikut :

Tindak Tutur (Speech Act)

Tindak tutur adalah adalah suatu tuturan /ujaran yang merupakan satuan fungsional dalam komunikasi. Teori tindak tutur di kemukakan oleh dua orang ahli filsafat bahasa yang bernama John Austin dan John Searle pada tahun 1960-an. Menurut teori tersebut, setiap kali pembicara mengucapkan suatu kalimat, Ia sedang berupaya mengerjakan sesuatu dengan kata-kata (dalam kalimat) itu. Menurut istilah Austin (dalam Nababan, 2012: 1), “ By saying something we do something”. Seorang hakim yang mengatakan “dengan ini saya menghukum kamu dengan hukuman penjara selama lima tahun” sedang melakukan tindakan menghukum terdakwa. Kata-kata yang diucapkan oleh hakim tersebut menandai dihukumnya terdakwa. Terdakwa tidak akan masuk penjara tanpa adanya kata-kata dari hakim.

Kata-kata yang diungkapkan oleh pembicara memiliki dua jenis makna sekaligus, yaitu makna proposisional atau makna lokusioner (locutionary meaning) dan makna ilokusioner (illocutionary meaning). Makna proposisional adalah makna harfiah kata-kata yang terucap itu. Untuk memahami makna ini pendengar cukup melakukan decoding terhadap kata-kata tersebut dengan bekal pengetahuan gramatikal dan kosa kata. Makna ilokusioner merupakan efek yang ditimbulkan oleh kata-kata yang diucapkan oleh pembicara kepada pendengar. Sebagai ilustrasi, dalam ungkapan “saya haus” makna proposisionalnya adalah pernyataan yang menggambarkan kondisi fisik pembicara bahwa Ia haus. Makna ilokusionernya adalah efek yang diharapkan muncul dari pernyataan tersebut terhadap pendengar. Pernyataan tersebut barangkali dimaksudkan sebagai permintaan kepada pendengar untuk menyediakan minuman bagi pembicara.

Implikatur

Implikatur adalah ujaran yang menyiratkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diucapkan . Sesuatu “yang berbeda” tersebut adalah maksud pembicara yang dikemukakan secara eksplisit. Dengan kata lain, implikatur adalah maksud, keinginan, atauungkapan-ungkapan hati yang tersembunyi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan hakikat dan konsep tata bahasa dan pragmatik, kami dapat menyimpulkan beberapa hal di antaranya sebagai berikut.

  1. Tata bahasa merupakan seperangkat kaidah yang mengatur tentang kebahasaan yang bersifat tradisional. Hal itu dapat dilihat dari segi fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.
  2. Pragmatik merupakan suatu kajian pemakaian bahasa oleh penutur pada mitra tutur yang cenderung lebih terikat pada konteks pembicaraan.
  3. Konsep dasar tata bahasa sendiri lebih cenderung tekstual dan terikat oleh kaidah-kaidah tertentu.
  4. Konsep pragmatik lebih bersifat kontekstual atau terikat konteks dan diatur oleh prinsip-prinsip dasar komunikasi.

 

3.2 Saran

            Sebaiknya kita menguasai hakikat da konsep dasar dari tata bahasa, bagaimanapun tata bahasa merupakan dasar agar kita dapat memahami konsep pragmatik. Di dalam pragmatik memuat seperangkat prinsip-prinsip komunikasi yang mengedepankan konteks sebagai unsur utamanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman. 2009. “Pragmatik: Konsep Dasar Memahami Konteks Tuturan” (Online) http://www.jurnallingua.com.html. Diakses tanggal 21 Maret 2013.

Misriyah, Anis. 2011. “Tata Bahasa” (Online) http://anitamisriyahmissy.blogspot.com/html. Diakses tanggal 21 Maret 2013

Nababan, Darwin. 2012.Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia”(Online). http://contohmakalahq.blogspot.com./html. Diakses tanggal 20 Maret 2013.

Suwanto, Yohanes. 2009. “Pragmatik” (Online) http://yswan.staff.uns.ac.id/2009/04/08/pragmatik/.Diakses tanggal 21 Maret 2013)

Yule, George. 1996. Pragmatik. Yogjakarta: Pustaka Pelajar

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s